Sebanyak 30 ribu jiwa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat banjir dahsyat yang melanda kawasan selatan Thailand. Hingga Rabu (4/12), otoritas setempat melaporkan bahwa jumlah korban jiwa telah mencapai 29 orang. Bencana ini telah mempengaruhi kehidupan 155 ribu keluarga, menurut pernyataan dari Humas Pemerintah Thailand yang dikutip oleh AFP.
Bencana banjir ini melanda lima provinsi di Thailand, yaitu Pattani, Narathiwat, Songkhla, Nakhon Si Thammarat, dan Phatthalun. Kondisi ini semakin memburuk dengan laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan yang menyebutkan adanya empat korban jiwa baru, menambah jumlah korban tewas yang sebelumnya tercatat sebanyak 25 orang.
Pemerintah Thailand kini telah mengerahkan tim untuk menyalurkan bantuan kepada keluarga yang terdampak banjir. Sementara itu, Departemen Meteorologi Thailand memprediksi bahwa hujan deras masih akan terus mengguyur wilayah tersebut, dan memperingatkan kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Banjir tidak hanya melanda Thailand, tetapi juga negara tetangganya, Malaysia. Di sana, ratusan ribu orang juga terpaksa mengungsi akibat bencana serupa. Setiap musim hujan, Thailand memang kerap dilanda banjir. Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim telah membuat banjir kali ini lebih destruktif dibandingkan sebelumnya.
Banjir besar yang mematikan terakhir kali terjadi di Thailand pada tahun 2011. Saat itu, sebanyak 500 orang kehilangan nyawa dan jutaan rumah hancur. Kejadian ini menjadi pengingat akan dampak dahsyat yang dapat ditimbulkan oleh bencana alam, serta pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di masa depan.