Menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojek online (ojol) membuat Adevita (40) menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, sehingga kerinduannya kepada tiga anaknya semakin terasa.
“Kalau boleh milih, saya enggak mau kerja, mau sama anak, main sama anak. Walaupun mereka sudah besar, waktu sama anak itu sudah susah untuk didapatkan,” ujar Adevita saat ditemui Kompas.com di Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (2/12/2025).
Adevita menyadari bahwa pekerjaan sebagai ojol memaksanya mengorbankan banyak waktu bersama keluarga. Kondisi ekonomi membuatnya tidak punya banyak pilihan, sehingga ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Ini sudah jalannya, ya. Jiwa saya pekerja keras, dari zaman sekolah sudah cari uang. Semua saya lakukan demi anak dan keluarga,” kata Adevita.
Kondisi itu juga dibantu oleh sang suami, yang bekerja sebagai pencuci piring di salah satu restoran di Kota Kasablanka. Meski begitu, penghasilan mereka masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, terutama di tengah tingginya biaya hidup saat ini. Biaya sekolah ketiga anaknya menjadi salah satu alasan Adevita memilih menjadi lady ojol, sebutan untuk pengemudi ojol perempuan.
“Sehari itu target saya sampai 15 orderan, pernah juga sampai 20 orderan. Tapi paling sering 15 orderan,” ujarnya. Kesibukan tersebut membuatnya jarang memiliki waktu bermain bersama anak-anak, meski masih sempat mengantar dan menjemput mereka sekolah.
Meski demikian, Adevita tetap berusaha menyediakan ruang kecil untuk kebersamaan. Saat suaminya libur, mereka biasanya berkumpul di teras rumah untuk makan bersama. Walaupun menu sederhana, momen itu dianggap sangat berharga.
“Makan bareng itu quality time-nya. Walaupun cuma di teras, pakai mi instan atau nasi goreng, yang penting kita kumpul bareng,” kata dia.
Kini, kesempatan berkumpul semakin jarang karena ketiga anaknya—yang duduk di kelas 3 dan 5 SD serta kelas 1 SMA—mulai tumbuh mandiri dan memiliki kegiatan masing-masing.
Rutinitas sebagai pengemudi ojol membuat Adevita harus mengorbankan banyak waktu bersama anak-anak demi mencukupi kebutuhan keluarga. Meski demikian, ia tetap berusaha menciptakan momen kebersamaan sederhana yang berharga di tengah kesibukannya.