XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia
  • Home
  • Viral
  • Nasional
  • Selebriti
  • E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
Reading: Anak Putus Sekolah di Kampung Ondel-ondel Bertahan Hidup dengan Mengamen
Share
  • Subscribe US
Notification
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda IndonesiaXVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia
Font ResizerAa
  • Home
  • Nasional
  • Selebriti
  • Game & E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
  • Viral & Trending
Search
  • Home
  • Nasional
  • Selebriti
  • Game & E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
  • Viral & Trending
Have an existing account? Sign In
Follow US
© XVG.co.id - Portal Media Generasi Muda Indonesia
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia > Blog > Megapolitan > Anak Putus Sekolah di Kampung Ondel-ondel Bertahan Hidup dengan Mengamen
Megapolitan

Anak Putus Sekolah di Kampung Ondel-ondel Bertahan Hidup dengan Mengamen

Redaksi XVG
Last updated: 3 Desember 2025 3:57 pm
Redaksi XVG
Share
3 Min Read

Di sebuah gang sempit di Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, terlihat anak-anak sedang memainkan kepala ondel-ondel berbahan piper yang warnanya mulai pudar. Dari kejauhan, terdengar alunan musik Betawi yang keluar dari ponsel, yang nantinya menjadi iringan saat mereka mengamen di persimpangan jalan.

Anak-anak ini sebagian besar sudah tidak bersekolah. Ondel-ondel yang dahulu merupakan simbol budaya kini berfungsi sebagai alat untuk mencari nafkah. Fenomena anak putus sekolah yang turun ke jalan dengan boneka ondel-ondel untuk mengamen sudah lama terjadi di Kampung Ondel-ondel, namun belakangan jumlahnya semakin banyak. Anak-anak berusia 10–15 tahun bergantian menyewa ondel-ondel kecil dari pengrajin untuk pergi ke titik-titik keramaian di Jakarta maupun kota penyangga.

“Kebanyakan dari mereka putus sekolah, jadi ya kita berdayakan. Daripada mereka keluyuran enggak jelas,” kata Firli (44), salah satu pengrajin ondel-ondel yang masih aktif di Kampung Ondel-ondel, saat ditemui Kompas.com pada Selasa (2/12/2025). Firli merupakan penerus dari almarhum ayahnya yang dulu menjadi penggerak tradisi ondel-ondel di kawasan tersebut.

Meskipun masih memproduksi ondel-ondel untuk pesanan acara, pendapatan utama Firli justru berasal dari menyewakan boneka kepada anak-anak yang mengamen.
“Sekarang pengrajin tinggal sedikit. Tapi yang ngamen banyak. Jamur lah. Penghasilan dari pesanan enggak tentu, yang pasti malah dari setoran anak-anak itu,” ujarnya. Setoran rata-rata anak-anak hanya Rp 20.000–30.000 per hari, bahkan pada hari hujan atau saat patroli ketat, mereka pulang tanpa hasil.

Firli mengakui adanya perubahan fungsi ondel-ondel dalam masyarakat.
“Sekarang orang banyak yang enggak paham makna ondel-ondel. Dilihatnya cuma buat cari duit,” katanya. Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi di kampung membuat anak-anak memanfaatkan ondel-ondel sebagai mata pencaharian.
“Negara kita kan belum sejahtera. Pemerintah bikin aturan dilarang ngamen, tapi enggak kasih solusi. Dunia seni Betawi harus dijaga, tapi di sisi lain, orang cari makan pakai apa?” tambahnya.

Menurut Firli, anak-anak kini mengamen hingga ke luar Jakarta, termasuk Tangerang, Depok, Bekasi, dan Merak, untuk menghindari patroli Satpol PP. Beberapa kali ia juga harus membantu keluarganya yang ditangkap petugas.
“Kemarin sepupu saya ditangkep. Dua hari. Lurah bantu keluarin,” ujarnya.

Firli berharap pemerintah tidak hanya menertibkan, tetapi juga menyediakan wadah bagi anak-anak dan masyarakat.
“Kalau mau larang ya boleh, tapi kasih kegiatan seni, atau bantuan untuk UMKM. Kampung ini bisa jadi kampung wisata,” ucapnya.

Salah satu anak yang mengikuti jalur ini adalah Fajar (bukan nama sebenarnya), bocah 12 tahun yang sudah tidak bersekolah selama dua tahun. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai penjaga warung kecil dekat gang tempat ia mengamen.Kampung Ondel-ondel di Kramat Pulo menjadi tempat bagi anak-anak putus sekolah untuk bertahan hidup melalui mengamen dengan boneka ondel-ondel. Meskipun tradisi Betawi di sini masih bertahan, realitas ekonomi memaksa budaya ini dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan. Para pengrajin dan masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menertibkan, tetapi juga menyediakan wadah kreatif untuk pelestarian seni dan kesejahteraan masyarakat.

TAGGED:Ondel-ondel
Share This Article
Facebook Twitter Email Copy Link Print
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
TwitterFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Popular News

Cerita Penumpang LRT Jabodebek: Berjalan Kaki 800 Meter di Rel Saat Gangguan
29 Oktober 2025
Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump: Elon Musk Mengalami Kerugian Besar
4 Februari 2025
Pemindahan ASN ke Ibu Kota Nusantara: Menanti Keputusan Presiden Prabowo
30 Desember 2024
Son Ye Jin Pertimbangkan Tawaran Drama Korea Terbaru “Variety”
13 Februari 2025
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia

Memberships

  • Redaksi
  • Tentang Kami

Quick Links

  • Syarat dan Ketentuan Privasi
  • Iklan
  • Pedoman Siber
FacebookLike
TwitterFollow
YoutubeSubscribe

© XVG.co.id – Portal Media Generasi Muda Emas Indonesia

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?