Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa penanganan banjir di Jakarta kini lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, genangan air yang muncul akibat hujan deras dapat surut dalam hitungan jam. “Kemarin, pengalaman kami menunjukkan bahwa penanganannya sekitar enam jam,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2025).
Pramono menjelaskan bahwa banjir di Jakarta umumnya dipengaruhi oleh tiga faktor utama: banjir kiriman, banjir lokal, dan air rob. “Jika ketiga faktor ini terjadi bersamaan, permukaan air akan meningkat seperti pada awal pemerintahan saya,” jelas Pramono. Namun, ia menegaskan bahwa sistem pompa di Jakarta saat ini sudah jauh lebih siap untuk menghadapi situasi tersebut.
Dengan lebih dari 600 pompa portabel dan 600 pompa stasioner yang telah dipersiapkan, Pramono optimistis bahwa penanganan banjir di Jakarta akan lebih cepat. “Kami yakin, meskipun banjir lokal, banjir kiriman, dan air rob terjadi bersamaan, genangan dapat diatasi dalam waktu singkat,” tambahnya. Pramono berharap, jika ketiga faktor tersebut terjadi bersamaan, penanganannya tidak akan memakan waktu lebih dari satu hari.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi curah hujan tinggi yang diperkirakan berlangsung dari November 2025 hingga Februari 2026, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai upaya pengendalian banjir. Pramono menyebutkan bahwa program mitigasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengerukan sungai hingga kesiapan personel lapangan.
Pemprov DKI telah melakukan pengerukan sedimen di 1.803 titik sungai dan waduk dengan total volume material mencapai 721.243 meter kubik untuk meningkatkan kapasitas tampung air. Selain itu, sebanyak 560 pompa stasioner di 191 lokasi dan 627 pompa mobile di lima wilayah administrasi juga disiagakan, lengkap dengan dukungan 258 ekskavator, 449 dump truck, serta peralatan penunjang lainnya.
Di kawasan pesisir, Pemprov DKI menyiapkan tujuh rumah pompa dan pintu air sebagai antisipasi terhadap potensi banjir rob. Selain itu, Pemprov DKI juga mulai membangun waduk, situ, dan embung yang bertujuan memperkuat daya serap dan retensi air secara alami.
Upaya pencegahan pohon tumbang juga dilakukan, termasuk penebangan dan penopangan terhadap 62.161 pohon yang dinilai berisiko roboh pada musim hujan. Langkah ini diambil untuk meminimalisir dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
Dengan berbagai langkah strategis yang telah disiapkan, Gubernur Pramono Anung berharap penanganan banjir di Jakarta dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien, sehingga dampak negatif terhadap masyarakat dapat diminimalisir.