Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memimpin apel dan simulasi kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan di Ruang Limpah Sungai, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Selasa, 4 Oktober 2025. Dalam kesempatan tersebut, Pramono menegaskan pentingnya kesiapan seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat dalam menghadapi potensi banjir yang diprediksi akan terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan banjir diperkirakan akan melanda Jakarta pada periode tersebut. Pramono menyatakan, “Saya bersama Forkopimda dan jajaran, termasuk TNI dan Polri, mengadakan apel dan gladi kesiapsiagaan menghadapi banjir yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan November sampai dengan Februari tahun 2025-2026.”
Selain curah hujan tinggi, limpasan air dari wilayah Bogor, Depok, dan Puncak juga diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Pramono menambahkan bahwa potensi pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase bulan purnama dan perige dapat memicu banjir rob di pesisir utara Jakarta. “Fenomena pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase bulan purnama dan perige berpotensi menimbulkan banjir rob di kawasan pesisir utara Jakarta,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Pemprov DKI telah menyiapkan berbagai langkah teknis. Di antaranya adalah pengerukan di 1.803 titik sungai dan waduk dengan volume 721.243 meter kubik, pengoperasian 560 pompa stasioner di 191 lokasi, serta 627 pompa mobile. Selain itu, disediakan pula 258 ekskavator dan 449 dump truck. “Kami juga menyiapkan tujuh rumah pompa dan pintu air untuk mengantisipasi banjir rob,” tambah Pramono.
Pemprov DKI juga menerapkan pendekatan nature-based solution dalam pembangunan waduk, situ, dan embung. Selain itu, dilakukan penebangan dan penopangan 62.161 pohon yang berisiko tumbang. Pasukan Pelangi dikerahkan untuk melakukan pemantauan di lapangan guna memastikan kesiapsiagaan berjalan optimal.
Meski berbagai langkah teknis telah disiapkan, Pramono mengingatkan bahwa kesiapsiagaan banjir bukan hanya soal alat dan logistik. Ia menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur pemerintahan dan masyarakat. “Kepada seluruh jajaran wilayah dan satgas lapangan, tingkatkan komunikasi, pemantauan, dan kecepatan informasi kepada warga di sekitar masing-masing,” tegas Pramono.
Dengan berbagai langkah strategis yang telah disiapkan, diharapkan Jakarta dapat lebih siap menghadapi musim penghujan dan potensi banjir yang menyertainya. Kolaborasi antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi tantangan ini demi keselamatan dan kenyamanan warga Jakarta.