Warga Muara Angke, Jakarta Utara, masih kesulitan memperoleh air bersih di rumah mereka karena tidak adanya jaringan air perpipaan. Akibatnya, banyak warga dan pedagang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke bergantung pada air gerobakan dengan harga yang sangat tinggi, bahkan mencapai puluhan kali lipat tarif resmi PAM Jaya.
Seorang pedagang udang, Suharto (60), mengaku membeli satu hingga dua gerobak air bersih per hari, masing-masing berisi 20 jeriken 20 liter, sehingga biaya per hari bisa mencapai Rp 100.000 dan sebulan hingga Rp 500.000–1 juta, tergantung volume dagangan. Ia menjelaskan, udang tambak yang dijual harus dibersihkan dengan air tawar agar kualitas tetap terjaga, tidak bisa menggunakan air asin.
Sementara itu, Deni (17), pemilik warung, membeli dua pikul air per hari dengan biaya Rp 12.000, sehingga pengeluaran bulanan untuk air bersih mencapai sekitar Rp 360.000. Kondisi serupa dialami Mulyanto (51) dan warga lainnya, yang setiap hari mengandalkan air gerobakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil mereka.
Ketiadaan jaringan air perpipaan di Muara Angke membuat warga dan pedagang harus mengeluarkan biaya besar untuk air bersih. Kondisi ini menimbulkan beban ekonomi signifikan dan berpotensi memengaruhi kualitas hidup serta aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.