Di tengah gencarnya kampanye hijau dan slogan ramah lingkungan, baik individu maupun institusi sering kali hanya berhenti pada tataran formalitas. Banyak perusahaan yang mengklaim memiliki “komitmen hijau”, namun kenyataannya limbah mereka masih mencemari sungai. Birokrat berbicara tentang pelestarian, tetapi tetap menandatangani izin eksploitasi yang merusak daerah resapan air. Dalil “kebersihan bagian dari keimanan” sering kita dengar, namun kita tidak merasa bersalah ketika membuang sampah plastik ke sungai.
Tuhan telah memberikan kita amanah ekologis berupa hutan yang harus dijaga, pesisir yang harus ditata, udara yang harus dipelihara, dan ruang hidup yang harus dilindungi. Namun, amanah ini sering kali kita ubah menjadi komoditas. Kita menukar mata air dengan tambang, mengorbankan hutan demi keuntungan cepat, atau membiarkan tata ruang dilanggar oleh kekuatan modal. Janji untuk merehabilitasi alam sering kali diingkari, rencana pengendalian banjir tidak pernah selesai, dan janji energi bersih hanya berhenti pada konferensi.
Munafik ekologis adalah perilaku aktif merusak alam sambil mengaku melindungi. Ini diambil dari ajaran spiritual agama yang menunjuk tanda munafik dengan tiga ciri: apabila bicara berdusta, apabila diberi amanah dikhianati, dan apabila berjanji tidak ditepati. Komitmen ekologis sering kali hanya kosmetik, bukan kehendak moral.
Tidak ada yang salah dengan pemanfaatan alam untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Namun, kesalahan besar dimulai ketika manusia mereduksi alam hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai amanah Ilahi yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, perlu ada teologi eksploitasi alam sebagai pijakan akidah lingkungan, atau yang dikenal dengan ekoteologis.
Ekoteologis mengajarkan bahwa kita boleh mengambil, tetapi tidak boleh merusak. Boleh memanfaatkan, tetapi wajib menjaga keseimbangan. Ketika alam dikeruk tanpa batas, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran spiritual, kita sesungguhnya sedang menggali liang kubur kita sendiri. Eksploitasi alam tanpa moral bukan hanya penghancuran lingkungan, tapi juga bunuh diri peradaban.
Ekoteologis menegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam bukan relasi predator dan mangsa, tetapi relasi penjaga dan amanah. Kita diajari agar menahan diri dari kerakusan. Mengambil tanpa memulihkan adalah bentuk keserakahan yang bertentangan dengan akidah lingkungan. Alam bukan hanya sarana hidup, tetapi juga cermin keimanan. Cara kita memperlakukan bumi menunjukkan kualitas iman kita.
Setiap kerusakan ekologis sesungguhnya adalah cerminan keretakan spiritual kita yang sangat parah. Hutan yang dibakar adalah tanda bahwa iman kita ikut terbakar. Sungai yang dicemari dan menjadi keruh menunjukkan bahwa akidah kita turut keruh. Eksploitasi tanpa komitmen akidah lingkungan adalah kepunahan yang dipercepat. Sebaliknya, pemanfaatan yang berlandaskan amanah adalah kemakmuran panjang yang diberkahi.
Inilah saatnya kita mengambil sikap. Saatnya kita mengangkat suara lebih keras daripada mesin-mesin yang menebang pohon-pohon di hutan. Saatnya berhenti memuja pertumbuhan ekonomi buta yang hanya menghasilkan puing-puing rumah penduduk yang disapu banjir bandang. Kita harus berhenti pada retorika dan mulai bertindak nyata. Sebagai masyarakat religius, kita harus yakin bahwa menanam sebagai ibadah, melindungi lingkungan sebagai syukur, merusak alam sebagai dosa besar yang tidak mudah ditobati, dan menolak kehancuran sebagai puncak dari tauhid.