Kampung Ondel-ondel di Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, tidak hanya berperan sebagai pusat kerajinan dan pelestarian budaya Betawi, tetapi juga menjadi tumpuan hidup sebagian warganya. Beberapa anak muda memanfaatkan boneka ondel-ondel untuk mengamen di jalanan, sehingga muncul perdebatan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi.
Ondel-ondel, yang dikenal sebagai ikon budaya Betawi, kini juga menjadi sumber penghasilan bagi anak-anak yang memanfaatkan boneka raksasa tersebut. Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menilai penggunaan ondel-ondel di luar konteks tradisi berisiko menurunkan nilai budaya.
“Pemanfaatan yang kreatif dengan pakem yang benar itu baik dan berguna. Namun pemanfaatan oleh oknum semata-mata untuk mencari uang atau sekadar bertahan hidup di Jakarta, itu menghina, merendahkan, dan merugikan,” ujar Yahya, Selasa (2/12/2025).
Menurut Yahya, makna ondel-ondel tetap sama, tetapi cara masyarakat memaknai telah bergeser. Mereka yang tidak memahami nilai budaya kerap menggunakan ondel-ondel hanya sebagai alat ekonomi, sementara yang kreatif bisa memanfaatkannya untuk produk seperti kaos, gantungan kunci, atau komik.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menegaskan bahwa ondel-ondel harus ditempatkan secara layak sesuai fungsi budayanya. Aktivitas pengamen ondel-ondel dianggap bertentangan dengan semangat pelestarian budaya. Purnama mengacu pada Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, yang melarang pengamen, pengemis, pedagang asongan, serta memberikan uang kepada mereka. Ia menyebut edukasi dan penghalauan menjadi cara untuk menegakkan aturan sambil memberi ruang bagi anak-anak mengekspresikan diri.
Firli (44), salah satu pengrajin ondel-ondel di kampung tersebut, menjelaskan bahwa usaha ini diteruskan dari orang tuanya sejak 2017. Selain memproduksi, ia juga menyewakan ondel-ondel kepada anak-anak pengamen. Harga sewa tidak ditetapkan secara tetap, karena pendapatan sering dipengaruhi kondisi cuaca; pada hari hujan, biasanya pendapatan menurun.
Kampung Ondel-ondel menjadi pusat budaya sekaligus sumber penghasilan, namun pemanfaatannya untuk mengamen menimbulkan perdebatan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi. Pihak berwenang menekankan edukasi dan penertiban agar aktivitas ekonomi tidak mengurangi nilai estetika dan simbol budaya ondel-ondel, sementara pengrajin berusaha menyeimbangkan antara pelestarian tradisi dan penghidupan warga.