XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia
  • Home
  • Viral
  • Nasional
  • Selebriti
  • E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
Reading: Atraksi Topeng Monyet di Matraman: Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Share
  • Subscribe US
Notification
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda IndonesiaXVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia
Font ResizerAa
  • Home
  • Nasional
  • Selebriti
  • Game & E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
  • Viral & Trending
Search
  • Home
  • Nasional
  • Selebriti
  • Game & E-Sport
  • Musik
  • Fashion
  • Lifestyle
  • Viral & Trending
Have an existing account? Sign In
Follow US
© XVG.co.id - Portal Media Generasi Muda Indonesia
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia > Blog > Megapolitan > Atraksi Topeng Monyet di Matraman: Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Megapolitan

Atraksi Topeng Monyet di Matraman: Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Redaksi XVG
Last updated: 2 Desember 2025 9:52 am
Redaksi XVG
Share
7 Min Read

Di bawah terik matahari siang, suasana di gang sempit kawasan Matraman, Jakarta Timur, tampak hidup dengan kehadiran sepasang pengamen topeng monyet. Di antara deretan pagar besi dan tembok rumah yang catnya mulai mengelupas, Deni (43) dan keponakannya, Raffi (18), duduk lesehan di pinggir jalan beraspal. Deni, pria bertubuh kurus dengan kulit kecokelatan akibat terpanggang matahari, mengenakan topi merah-putih yang lusuh. Ia bersandar pada pagar rumah sambil memegang drum dari tabung gas bekas berwarna hijau terang, yang catnya sudah mengelupas di beberapa sisi. Dari tabung itu, Deni mengeluarkan dentuman ritmis yang menjadi pengiring atraksi kecil di depan matanya.

Di sisi lain, Raffi, pemuda berkaus panjang warna kuning yang sudah memudar, memegang seutas tali kuning cerah. Wajahnya serius, matanya tak lepas mengawasi monyet kecil yang menjadi pusat tontonan. Hewan itu mengenakan pakaian biru lengkap dengan topi putih kecil dan berusaha mengikuti gerakan sesuai tarikan tali sang pawang muda. Monyet itu mendorong miniatur gerobak roda empat yang terbuat dari kayu dan plastik bekas, dicat hitam-putih dengan roda berwarna oranye mencolok. Sesekali, ia menaiki miniatur motor merah menyerupai motor gede (moge), berjalan pelan di atas aspal. Ekornya sesekali terangkat mengikuti gerakan tali yang terhubung ke pinggangnya.

Suasana di gang sederhana itu semakin hidup ketika anak-anak berdatangan. Seorang bocah berambut ikal menatap tanpa berkedip, duduk di atas motor milik orangtuanya yang terparkir tak jauh dari lokasi atraksi. Ia memperhatikan monyet yang berusaha menjaga keseimbangan di atas mainan motor roda tiga, sementara sang paman terus menabuh tabung gas yang kini beralih fungsi menjadi alat musik jalanan. Raffi sesekali memberi aba-aba melalui tarikan tali untuk mengatur gerak monyet, sementara Deni terus memainkan irama demi menarik perhatian warga.

Senyum jarang terpancar dari wajah Deni. Namun, dengan sabar ia menjelaskan bahwa pekerjaan ini telah dijalaninya selama lebih dari 25 tahun, sejak remaja di kampung halamannya di Cirebon, Jawa Barat. “Saya yang bunyiin musik,” ujar Deni sembari mengusap keringat di dahinya saat ditemui Kompas.com, Jumat (28/11/2025). “Kalau yang megang tali ini ponakan saya, Raffi,” tambahnya sambil melirik ke arah pemuda yang duduk jongkok menjaga penampilan si monyet. Atraksi terus berlangsung di antara suara anak-anak yang penasaran, deru motor yang lewat, dan ritme dentuman tabung gas yang memecah hening siang. Di sinilah, tradisi hiburan rakyat bernama topeng monyet masih bertahan di tengah kota yang semakin sibuk dan modern.

Deni menuturkan, penghasilan hariannya tak seberapa, rata-rata sekitar Rp 50.000. Dengan jumlah teman keliling sebanyak enam orang, mereka mengatur rute agar dapat menjangkau beberapa titik di Jakarta setiap hari. “Tadi dari Jatinegara. Di sini sekitar Utan Kayu. Kita keliling Jakarta,” ujarnya. Monyet yang mereka gunakan bukan milik sendiri, melainkan disewa dari kampung dengan biaya Rp 700.000 per bulan. Biasanya, monyet diganti setiap lima tahun sekali jika sudah terlalu besar dan tidak lagi mampu mengikuti atraksi. Deni menceritakan, monyetnya telah empat kali disita oleh Satpol PP karena atraksi topeng monyet kini dilarang. “Terakhir saya yang menyerahkan sendiri,” katanya.

Meski demikian, Deni mengaku tidak pernah berniat mencari pekerjaan lain. Tawaran menjadi PPSU sempat datang, tetapi persyaratan administrasinya membuatnya batal. Kontrakan yang mereka tempati di Kota Paris, Tanah Tinggi, seharga Rp 350.000 per bulan harus ditanggung bersama. “Ya kita patungan buat bayar, buat makan, tabungan. Dirit-dirit,” ujarnya. Menurut Deni, kondisi saat berkeliling kini semakin sulit. Banyak warga yang menolak kehadiran mereka dan peraturan larangan semakin ketat. “Sekarang memang jarang sekali yang pakai topeng monyet. Biasanya musik atau biola di lampu merah,” tutur dia. Raffi, yang baru berusia 18 tahun, belajar dari pamannya sejak kecil. “Kalau monyetnya enggak nurut, enggak bisa dapet uang,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai fenomena pengamen topeng monyet sebagai bagian dari generasi awal pengamen di Jakarta. “Awalnya, topeng monyet hadir sebagai hiburan murah bagi masyarakat, terutama anak-anak, pada awal tahun 1990-an,” katanya. Menurut Rakhmat, pada masa itu teknologi digital belum berkembang sehingga hiburan jalanan menjadi tontonan utama. Monyet dianggap lucu karena bisa mengikuti perintah pawangnya. Namun, beberapa kasus monyet menggigit penonton mulai membuat orangtua melarang anak-anak menonton topeng monyet. Meski demikian, topeng monyet tetap bertahan sebagai sumber pendapatan ekonomi bagi pawang yang sebagian besar berasal dari kampung dan bekerja minimal berdua atau bertiga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa pengawasan terhadap primata yang digunakan dalam atraksi topeng monyet lebih difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan hewan. Hal ini mengacu pada sejumlah peraturan, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012, Perda Nomor 11 Tahun 1995, dan Pergub Nomor 199 Tahun 2016. Hasudungan memaparkan, tren atraksi topeng monyet di Jakarta sudah turun drastis. Namun, sebagian pengamen tetap menggunakan jaringan penyewaan monyet secara mobile dan kerap berpindah lokasi untuk menghindari petugas.

Di gang sempit Matraman, kehidupan berjalan lambat di antara dentuman tabung gas dan gerakan monyet yang gemulai. Warga yang lewat menatap dengan rasa penasaran, sesekali memberikan uang receh, lalu melanjutkan aktivitasnya. “Seru sih, selama ini kan sering lihat tapi semakin ke sini semakin jarang ada topeng monyet,” tutur Nani (32) Warga Matraman. Menurut Nani, hiburan ini sangat ditunggu anak-anak. Meski begitu, ia juga selalu berpesan pada anaknya agar tidak mendekati hewan tersebut. “Pastinya menghibur, cuma saya pesan tuh ke anak. Kalau lihat topeng monyet jangan dekat, takutnya digigit,” kata Nani.

Para pengamen jalanan dan pawang topeng monyet menghadapi dilema: antara bertahan dalam profesi yang dicintai tetapi dilarang, atau beralih ke pekerjaan baru yang lebih aman namun asing bagi mereka. Bagi anak-anak yang menyaksikan atraksi tersebut, hiburan ini terasa sederhana, murah, dan menyenangkan. Namun, di balik tawa itu, tersimpan kisah perjuangan, identitas, serta tradisi yang nyaris punah di tengah kota yang terus bergerak maju. Deni menatap monyet kecilnya, sesekali tersenyum tipis. “Ini hiburan kami, cara kami cari nafkah. Tapi sekarang susah,” katanya. Di gang sempit Matraman, suara tabung gas, langkah monyet, dan tawa anak-anak menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan profesi yang nyaris hilang itu.

TAGGED:Matraman
Share This Article
Facebook Twitter Email Copy Link Print
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
TwitterFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Popular News

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional: Kontroversi dan Penghargaan
11 November 2025
Penumpang Gelap Tertangkap di Kereta Api: Insiden di Stasiun Cirebon Prujakan
26 Desember 2024
Hafithar, Siswa SD yang Naik KRL Tangerang-Klender: Kisah Perjuangan dan Harapan
25 November 2025
Penahanan Lima Anggota Mata Elang yang Merampas Pajero di Bekasi
13 Mei 2025
XVG.id - Portal Berita Generasi Muda Indonesia

Memberships

  • Redaksi
  • Tentang Kami

Quick Links

  • Syarat dan Ketentuan Privasi
  • Iklan
  • Pedoman Siber
FacebookLike
TwitterFollow
YoutubeSubscribe

© XVG.co.id – Portal Media Generasi Muda Emas Indonesia

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?