Kisah tragis yang menimpa Alvaro Kiano Nugroho, bocah berusia enam tahun, akhirnya terungkap setelah penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian. Alvaro, yang tinggal bersama kakek-neneknya di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menghilang tanpa jejak setelah berangkat ke masjid pada awal Maret 2025. Perjalanan hidupnya yang singkat berakhir tragis di tangan ayah tirinya, Alexander Iskandar.
Pada Kamis, 6 Maret 2025, Alvaro menemani neneknya berobat ke RSUD Pesanggrahan. Sepulangnya, ia meminta susu kepada kakeknya, Tugimin. Saat azan Ashar berkumandang, Alvaro bergegas menuju Masjid Jami Al Muflihun. Di masjid tersebut, seorang pria yang mengaku sebagai ayah Alvaro datang dan menjemputnya. Pria itu kemudian diketahui sebagai Alexander Iskandar, ayah tiri Alvaro.
Penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa Alexander Iskandar memiliki niat balas dendam, yang terdeteksi dari pencarian di ponselnya. Alvaro yang terus menangis setelah dijemput, akhirnya dibekap hingga meninggal dunia. Keluarga yang menunggu kepulangan Alvaro untuk berbuka puasa mulai panik ketika ia tak kunjung pulang hingga malam hari. Laporan kehilangan pun dibuat ke Polsek Pesanggrahan dan dilanjutkan ke Polres Metro Jakarta Selatan.
Setelah Alvaro tewas, jasadnya dibungkus dengan tas plastik hitam dan disimpan di garasi rumah oleh Alexander selama tiga hari. Pada 9 Maret 2025, jasad Alvaro dibuang di bawah jembatan Cilalay, Tenjo, Kabupaten Bogor. Alexander memilih lokasi tersebut karena memiliki kerabat di sana. Jasad Alvaro sempat dikira bangkai anjing oleh kerabat Alexander yang terlibat dalam pembuangan.
Selama delapan bulan pencarian, Alexander Iskandar berpura-pura membantu keluarga mencari Alvaro, bahkan hingga ke Bogor. Namun, kebaikannya ternyata hanya kedok. Polisi melanjutkan penyelidikan dengan memeriksa saksi dan melakukan klarifikasi terhadap ayah kandung Alvaro yang berada di Lapas Cipinang. Informasi penting yang masuk pada 20 November 2025 semakin menguatkan dugaan keterlibatan Alexander.
Motif pembunuhan diduga dipicu oleh dendam Alexander terhadap istrinya yang diduga memiliki pria idaman lain. Pesan bernada ancaman dan pencarian terkait balas dendam ditemukan di ponsel Alexander. Sebelum resmi ditahan sebagai tersangka, Alexander ditemukan tewas bunuh diri di ruang konseling Mapolres Jakarta Selatan. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan celana panjang.
Tragedi yang menimpa Alvaro Kiano Nugroho menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan perlindungan terhadap anak-anak. Kasus ini juga menyoroti kompleksitas hubungan keluarga dan dampak emosional yang dapat berujung pada tindakan kriminal. Semoga keadilan dapat ditegakkan dan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.