Komisi X DPR RI mengimbau Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk segera menyesuaikan kurikulum pendidikan. Langkah ini diambil guna mendukung rencana pemerintah dalam memberikan beasiswa pelatihan bagi lulusan SMA/SMK yang berkeinginan bekerja di luar negeri. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan bahwa penyesuaian ini penting agar kebijakan pemerintah yang telah mengalokasikan anggaran hingga Rp 12 triliun untuk beasiswa dapat berjalan sesuai harapan.
Lalu Hadrian menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah ini. Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan dari sisi pendidikan dasar dan menengah, terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan karakter kerja yang kuat. “Kami tentu mendukung penuh langkah pemerintah ini. Namun yang tidak kalah penting adalah kesiapan dari sisi pendidikan dasar dan menengah, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan karakter kerja yang kuat,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/11/2025).
Politikus PKB ini menilai bahwa penyesuaian kurikulum dan penguatan vokasi sangat penting. Hal ini bertujuan agar lulusan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi di lingkungan kerja global. “Dengan demikian, lulusan SMA dan SMK tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan bahasa, etika kerja, dan pemahaman lintas budaya yang dibutuhkan di dunia kerja global,” tambahnya.
Selain itu, Lalu juga mendorong penguatan kapasitas para pendidik melalui program bimbingan teknis (bimtek) yang berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru perlu dilakukan secara merata agar standar kualitas pembelajaran di seluruh daerah bisa sama dan setara. “Pelatihan ini jangan hanya bersifat jangka pendek, tetapi harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan menengah kita. Pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga pelatihan juga perlu dilibatkan agar sinergi ini menghasilkan tenaga kerja berkualitas yang mampu bersaing di luar negeri,” jelasnya.
Lalu mengingatkan bahwa tujuan akhir dari program beasiswa bagi lulusan SMA ini jangan sampai berhenti pada pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri. Dia berharap, program ini juga bermuara pada peningkatan kualitas generasi muda Indonesia agar mampu bersaing di dunia internasional. “Tujuan akhirnya bukan hanya menyiapkan tenaga kerja untuk ke luar negeri, tetapi juga membangun generasi muda Indonesia yang berdaya saing, berkompeten, dan mampu membawa nama baik bangsa di dunia internasional,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah telah menyiapkan beasiswa kursus dan pelatihan bagi lulusan SMA/SMK sederajat untuk bekerja di luar negeri. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengungkapkan bahwa anggaran yang disediakan mencapai Rp 12 triliun. Hal ini disampaikan setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025).
Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, menjelaskan bahwa beasiswa ini akan berguna bagi siswa yang baru lulus ketika hendak bekerja di luar negeri dengan beragam profesi seperti welder, caregiver, dan hospitality. Pemberian beasiswa akan dimulai pada akhir tahun 2025, dan jumlah tersebut akan diperbesar pada tahun depan. “Untuk beasiswa dimulai akhir tahun ini dengan jumlah tertentu semaksimal mungkin dan akan dimulai lebih besar lagi pada bulan Januari,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa program ini berbeda dengan program penyediaan 500.000 tenaga kerja terampil untuk bekerja di luar negeri oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Program tersebut memberikan pelatihan pengelasan (welding) dan perhotelan (hospitality) demi memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja luar negeri dengan dana yang disediakan mencapai Rp 8 triliun. “Beda (dengan program tersebut),” tandas Imin.