Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, mengajak seluruh masyarakat untuk legawa menerima keputusan pemerintah yang menetapkan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Meskipun terdapat pro dan kontra di masyarakat, Saan menegaskan bahwa perdebatan tersebut seharusnya berakhir dengan adanya keputusan resmi dari pemerintah. “Jadi, sekali lagi, terlepas dari pro-kontra, tentu ketika pemerintah sudah menetapkan, ya kita semua harus legawa. Pro-kontra berarti sudah selesai dengan diambil putusan tadi,” ujar Saan di Nasdem Tower, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025).
Selain Soeharto, pemerintah juga memberikan gelar pahlawan nasional kepada aktivis buruh Marsinah dan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur. Saan menyoroti bahwa pemberian gelar kepada Marsinah merupakan bentuk penghargaan negara terhadap perjuangan buruh. Marsinah dikenal sebagai simbol perjuangan buruh di Indonesia. “Termasuk di dalamnya Pak Soeharto, mantan presiden kita semua. Juga Gus Dur atau Abdurrahman Wahid, mantan presiden juga. Dan tokoh pejuang buruh, Marsinah, juga mendapatkan sekali lagi pengakuan,” tambah Saan.
Lebih lanjut, Saan menyampaikan ucapan selamat kepada keluarga dan ahli waris dari para pahlawan nasional yang telah ditetapkan. “Jadi, sekali lagi, Partai Nasdem mengucapkan selamat kepada mereka. Dan ini adalah bentuk pengakuan negara terhadap jasa-jasa dan perjuangan mereka semua,” ujar Saan. Pemberian gelar pahlawan nasional ini diumumkan oleh Istana Kepresidenan pada Senin (10/11/2025).
Soeharto diakui sebagai pahlawan di bidang perjuangan bersenjata dan politik. Perjuangannya dianggap menonjol sejak masa kemerdekaan. Pemberian gelar kepada Soeharto dan sembilan tokoh lainnya didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 November 2025. “Jenderal Soeharto menonjol sejak masa kemerdekaan. Sebagai wakil komandan BKR Yogyakarta, ia memimpin pelucutan senjata di Jepang, Kota Baru 1945,” sebut narator saat Prabowo memberikan tanda gelar kepada ahli waris yang menerima.
Penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto dan tokoh-tokoh lainnya menambah daftar individu yang diakui atas jasa-jasanya dalam sejarah Indonesia. Meskipun menuai berbagai reaksi, keputusan ini tetap menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghargai kontribusi para pahlawan dalam membangun bangsa. Ajakan Saan Mustopa untuk legawa menerima keputusan ini mencerminkan harapan agar masyarakat dapat bersatu dalam menghormati jasa para pahlawan nasional.