Setelah delapan bulan menghilang, misteri keberadaan Alvaro Kiano Nugroho akhirnya terungkap. Bocah berusia enam tahun ini ditemukan dalam kondisi mengenaskan, hanya tinggal kerangka, di pinggir Kali Cilalay, Tenjo, Kabupaten Bogor, pada Minggu, 23 November 2025. Penemuan ini merupakan hasil pencarian intensif yang dimulai sejak Sabtu, 22 November 2025, dengan melibatkan anjing pelacak.
Kerangka Alvaro ditemukan di antara tumpukan sampah, bersama dengan kemeja putih lengan panjang dan celana pendek yang diduga miliknya. Kapolsek Pesanggrahan, AKP Seala Syah Alam, mengonfirmasi penemuan ini kepada keluarga dan menyatakan bahwa polisi telah menangkap tersangka utama, yaitu ayah tiri Alvaro, Alex Iskandar (49). “Alvaro sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, dan tersangka sudah diamankan,” ujar Seala.
Pengungkapan kasus ini tidak terlepas dari pemeriksaan intensif terhadap Alex, yang awalnya membantah terlibat. Namun, kesaksian anak-anak di sekitar lokasi kejadian membuka jalan bagi polisi. Anak-anak tersebut diminta mengidentifikasi foto beberapa orang, termasuk Alex, dan mengonfirmasi bahwa Alex adalah orang terakhir yang terlihat bersama Alvaro di masjid.
Motif penculikan Alvaro diduga berakar dari rasa dendam dan cemburu Alex terhadap istrinya, yang bekerja di luar negeri dan dicurigai berselingkuh. Alex sering mengirim pesan ancaman kepada istrinya, termasuk rencana balas dendam. Pada hari kejadian, Alex mengajak Alvaro membeli mainan, namun ketika Alvaro menangis mencari kakeknya, Alex membekap mulutnya hingga meninggal.
Setelah kejadian, Alex menyimpan jasad Alvaro di garasi rumah selama tiga hari sebelum membuangnya di Tenjo. Ia memilih lokasi tersebut karena memiliki kerabat di sana yang diduga terlibat membantu. Pada 9 Maret 2025, Alex membuang jasad Alvaro di bawah jembatan Cilalay.
Sebelum penemuan kerangka Alvaro, Alex mengakhiri hidupnya di ruang konseling Mapolres Jakarta Selatan. Ia ditemukan tak bernyawa oleh saksi kunci, G, yang melihatnya dari bilah kaca di pintu. Keluarga Alvaro merasa marah dan kecewa karena Alex meninggal sebelum mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan.
Meskipun pelaku utama telah tiada, polisi memastikan penyidikan tidak berhenti. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menegaskan bahwa penyelidikan terhadap kemungkinan keterlibatan pihak lain akan terus dilakukan. “Penyelidikan terhadap pihak-pihak lain terus kami lakukan, termasuk informasi apapun, apakah ada pihak-pihak lain yang turut serta dalam aksi penculikan ini,” jelas Budi.
Kasus ini menyoroti pentingnya dukungan bagi mereka yang mengalami depresi. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami masalah serupa, jangan ragu untuk mencari bantuan. Layanan konseling dapat menjadi pilihan untuk meringankan beban yang ada. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi situs web Into the Light Indonesia.